Mengenal Anak

7 09 2006

Hendaklah orang-orang takut kepada Allah, seandainya mereka meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar ( S. An-Nisa –9 )

Orang tua mana yang tidak akan bahagia, bila oleh Tuhan dikaruni anak?
Semua orangtua tentu menginginkan anak hadir dalam kehidupan keluarganya.
Bahkan tidak sedikit orangtua yang belum dikaruniai putra, melakukan berbagai usaha dan upaya bahkan dana yang tidak sedikit agar buah cinta yang telah lama didambakan lahir ke alam wujud. Namun begitu anak lahir kealam dunia, tahukah anda bahwa seketika itu juga membentanglah keluasan lautan hayat yang akan ditempuh sang anak.

Aneka ragam persoalan yang memerlukan aneka kesanggupan untuk menghadapinya. Aneka ragam persoalan di sepanjang masa yang akan dilaluinya. Benar telah ada bekal yang diberi Tuhan. Bekal berupa benih-benih kesanggupan menghadapi masalah. Tetapi itu baru benih, siapa yang menanamnya agar tumbuh, siapa yang menyiram dan memberinya pupuk agar bagus perkembangannya.

Anda harus yakin, bahwa beban pertama terletak pada pundak orang yang diberi anak oleh Tuhan. Ya siapa yang tidak gembira mendapat anak? Tetapi siapa pula yang tidak khawatir, akan menghadapi berbagai kemungkinan. Sudah pasti akan menghadapi berbagai kemungkinan. Dari kecil supaya menjadi besar, dari tidak berilmu menjadi berilmu, dari tidak bersopan santun menjadi bersopan santun, dari tidak sanggup berdiri sendiri, menjadi sanggup berdiri sendiri.
Tidak mudah bukan?

Tetapi dalam hal ini anda sebagai orangtua harus konsekwen.Tugas berat itu harus anda selesaikan, tanpa ragu-ragu lagi. Anda harus mendidik! Dan anda harus sanggup mendidik anak. Biar bagaimana atau siapa, atau apapun kedudukan anak.
Biar anda sedang dalam kelonggaran maupun sedang dalam keadaan kesempitan. Tidak ada kecualinya, anda harus memikul tugas dan tanggungjawab ini.

Anak anda merengek-rengek minta “sesuatu“. ”Terfikir“ oleh anda lebih baik anda pukul, lalu anda pukul dia. Sebenarnya bukan terfikir, tetapi lebih banyak terdorong oleh “suasana“ hati anda ketika melakukan pukulan. Lain kali, terhadap merengek-rengek lain pula sikap anda. Barangkali ketika itu fikiran anda sedang “terbuka“, lalu apa yang dikehendaki anak dengan merengek anda kabulkan.
Rengek itu kemudian jadi jalan ke hati anda. Atau kadang-kadang anda jadi permainan anak. Karena dengan merengek itu ia bisa menyaksikan anda jadi “ bola tendangannya” sekali berada di sini, sekali dalam keadaan lain pula.

Dalam hal ini anda menjadi obyek. Meminta dengan sewajarnya tidak diberi, meminta dengan rengek diberi. Jadi rengek/tangis adalah alat yang ampuh supaya kehendaknya diturut. Ini menjadi kebiasaan. Menurut Ilmu Jiwa Behaviorism pembentukan demikian disebut conditioning. Keinginan-keinginan untuk membentuk conditioning dengan rengek, tangis atau air mata. Air mata itu adalah pernyataan emosi yang terbentuk karena conditioning itu. Tiap-tiap kali ada kehendak, otomatis terjadi rengek dan keluarnya air mata. Bila terjadi demikian, fungsi-fungsi berfikir yang menetralkanemosi bila sedang bekerja, jadi tergenjet, jadi kurang kerjanya, fikiran jadi lemah. Emosi bersifat mengerem atau merintangi fikiran.

Dalam hal ini orangtua/pendidik harus kuat hatinya. Bila gejala perengek itu muncul lebih baik jangan dihiraukan. Jangan sampai ada kesan sama sekali bahwa ada harganya merengek itu. Paling kurang jangan ada kesan bahwa rengek itu dapat dipergunakan untuk menarik perhatian. Dalam hal yang sudah agak mendalam harus dibentuk kembali conditioningnya dengan bentuk-bentuk yang menunjukkan bahwa rengek dan tangis itu malah merugikan.Benar-benar terasa hendaknya oleh anak bahwa itu merugikan lahir batin. Dalam hal ini orangtua/pendidik ibarat berlomba dengan anak. Mana yang lebih kuat hati, atau yang lebih cepat. Maka dialah yang menang. Bila orangtua/pendidik kalah, maka berlakulah kehendak Si Anak. Katanya ibu kasihan pada anak lalu kemauannya dituruti dan banyak orangtua yang berdalih demikian.

Mestinya tindakan orangtua bukan karena iba kasihan, melainkan karena sayang dan cinta. Faktor cintalah semestinya yang menyebabkan orangtua ingin melihat kemungkinan-kemungkinan hidup Anak di masa depan.

Ada juga orangtua/pendidik yang menjadikan anak sebagai obyek. Jadi taruhan yang akan diperjuangkan. Senang benar anda memperlakukan anak semaunya. Anda menyuruh ini menyuruh itu, larang ini larang itu. Coba kalau tidak dituruti, anda langsung bertindak. Tampak oleh anda anak itu lambat laun menjadi patuh dan patih benar.Senang hati anda melihat anak rajin. Sedangkan sebenarnya bukan rajin, tetapi hanya seperti mesin menurutkan perintah dan kemauan anda.
Aspek (cara-cara dari segi) ini tentu buruk benar (kemungkinannya) akibat-akibatnya. Coba anda fikir, umur anak berlalu dengan tidak pernah akan kembali surut lagi. Apa yang buruk yang telah melekat pada umur 7 tahun misalnya tidak bisa kembali pulih seperti sebelum berumur 7 tahun. Mungkin anda berharap bahwa dengan jalan re-edukasi (pendidikan ulang) keburukan itu akan dapat diatasi. Tidak! Ia adalah ibarat luka, biarpun nanti sembuh namun bekas parutnya akan senantiasa berkesan. Biarpun orang itu telah tobat dari tabiat buruknya, tetapi orang itu akan tetap memperlihatkan kabut bekas nodanya. Lebih-lebih kalau keburukan itu menimbulkan cacat berantai. Orang peminum jadi pemabuk, pemabuk jadi penjudi, penjudi jadi pemadat, pemadat jadi pemalas, sakit-sakitan dan seterusnya.

Jadi re-edukasi adalah sukar dan berbelit. Perlu dipelajari sebaik-baiknya yang merupakan kumpulan dari berbagai disiplin ilmu. Ilmu penyakit jiwa, ilmu penyembuhan batin, dan ilmu masyarakat juga. Semuanya termasuk dalam ilmu pendidikan sukar (Heilpedagogik).

Kekhilafan anak karena dengan tidak sengaja memecahkan gelas, tidak sepantasnya menimbulkan kemarahan orangtua (pendidik). Hanya dengan manis diberi nasehat supaya lebih berhati-hati di masa depan. Tetapi seharusnya pendidik marah benar, bila seorang anak melemparkan gelas sampai pecah karena kedongkolannya. Perbuatan inilah yang patut disesali dan perbuatan inilah yang perlu dihukum. Anak kehilangan suatu barang dengan tidak sengaja, kurang patut dihukum seberat dengan anak yang mencuri barang orang betapapun kecilnya.

Semua orangtua tentunya menginginkan kelak anak turunnya menjadi kuat jasmani rohaninya, tebal iman taqwanya, bakti pada orangtua, tinggi ilmu dan bahagia sejahtera hidupnya. Karena itu segala daya dan upaya dilakukan. Ibarat pepatah, bukit didaki, lembah ditimbuni tidak emas bungkal diasah, tidak air sumur digali, tidak kayu jenjang dikeping yang jauh diperdekat yang tinggi diperendah supaya bangunan bahagia yang didambakan lahir ke alam wujud.
Tetapi ………….baik yang dihadang, buruk juga yang tiba. Keberhasilan yang dikejar kegagalan yang didapat.

Jika kegagalan dimaksud adalah kegagalan dalam studi di sekolah, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
1. Rendahnya IQ ( Intelegensiz quotientien)
2. Kemalasan belajar
3. KenakalanRendahnya IQYang dimaksud dengan IQ rendah ialah IQ yang berada dibawah normal (-100). Anak yang mempunyai IQ demikian disangsikan kemampuannya untuk mengikuti pelajaran, karena daya pikir dan daya ingatannya lemah. Untuk mengatasi hal ini disarankan kepada orangtua/pendidik untuk membawa anak itu ke dokter atau psikiater untuk diperiksa.

Dari pemeriksaan akan diperoleh keterangan yang jelas tentang diri anak. Misalnya apakah anak tersebut mengidap suatu penyakit yang dapat mempengaruhi IQ nya. Dengan demikian orangtua/pendidik dapat bekerjasama dengan dokter/psikiater untuk meningkatkan IQ anak jika masih memungkinkan.

Kemalasan belajar

Kemalasan belajar dapat disebabkanb oleh berbagai hal,mislanya karena mengidap suatu penyakit yang menyebabkan malas belajar,pembawaan dari lahir dan pemngaruh lingkungan.

Kalau anak mengidap penyakit maka harus segera dibawa ke dokter untuk diobati. Kalau sebab karena pembawan dari lahir, hal tersebut dapat dilakukan dengan latihan-latihan berkesinambungan yang terarah setiap hari sampai anak dapat melakukan sendiri tanpa dorongan orangtua sehingga gerakan anak menjadi dinamis. Tetapi kalau kemalasan karena factor lingkungan yang kurang baik, orangtua hendaknya berusaha mencari lingkungan yang agak baik atau membatasi pergaulan anak dengan anak-anak nakal yang ada dilingkungannya.

Kenakalan

Anak nakal sekali. Tidak suka tinggal di rumah. Apalagi belajar di rumah. Senangnya hanya berkawan-kawan, bergerombol siang malam. Kadang-kadang terlibat kasus kriminalitas. Faktor penyebab yang paling utama adalah factor sosiologis, disamping factor keluarga yang juga tidak dapat diabaikan (terlalu memanjakan, rumah tangga yang berantakan, bisa jadi penyebab anak nakal)

Sejak kecil anak harus dibiasakan untuk sanggup bekerja sendiri. Ia harus produktif, biar bagaimanapun keadaannya. Makin besar makin dapat melakukan pekerjaan dan tugas tugas tertentu tanpa diperintah. Si pendidik tidak perlu memerintah dengan gaya aba-aba, tetapi mengajak dan merangsangkan saja segala kewajiban-kewajiban Si Anak.

Patuh berdasar disiplin adalah suatu keharusan, sehingga benar-benar menjadi kebiasaan.Kebiasaan yang akan dapat menjamin terlaksananya sifat-sifat yang baik pada anak . (Gunawan)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: